Panduan Makan untuk Cutting dan Bulking: Pengalaman Nyata yang Benar-Benar Saya Jalani
Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah: "Makan apa kalau mau turun berat badan?" Dan tidak lama kemudian, pertanyaan yang berlawanan muncul: "Kalau mau nambah otot, makan banyak-banyak aja, ya?"
Jawabannya tidak sesederhana itu — tapi juga tidak serumit yang banyak orang bayangkan.
Di artikel ini saya akan berbagi pengalaman langsung saya dalam menjalani dua fase yang berbeda: cutting (fase menurunkan lemak) dan bulking (fase menambah massa otot). Bukan teori semata, tapi apa yang benar-benar saya makan sehari-hari.
Apa Itu Cutting dan Bulking?
Sebelum masuk ke detail menu, penting untuk memahami konsep dasarnya.
Cutting adalah fase di mana kamu makan di bawah total kalori harian (caloric deficit) dengan tujuan menurunkan kadar lemak tubuh. Dalam fase ini, kamu ingin kehilangan berat badan — tapi dengan mempertahankan massa otot sebanyak mungkin.
Bulking adalah fase di mana kamu makan di atas total kalori harian (caloric surplus) dengan tujuan membangun massa otot. Dalam fase ini, kamu memang akan bertambah berat — dan itu wajar, bahkan diinginkan.
Dari pengalaman saya, saya menjalani masing-masing fase kurang lebih tiga bulan, lalu bergantian. Tujuannya agar komposisi tubuh terus berkembang dari waktu ke waktu.
Tidak ada orang yang harus selalu cutting selamanya. Dan tidak ada yang bisa bulking tanpa batas. Keduanya adalah siklus.
Pola Makan Saat Cutting
Saat cutting, pendekatan yang saya gunakan adalah Intermittent Fasting — metode mengatur "jendela makan" dalam sehari.
Saya menggunakan jendela makan 6 jam. Artinya, dalam sehari hanya ada 6 jam waktu saya boleh makan. Di luar itu, saya berpuasa — hanya air putih dan kopi hitam yang diperbolehkan.
Penting dicatat: metode ini tidak cocok untuk semua orang, terutama yang memiliki masalah asam lambung atau kondisi medis tertentu. Konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mencoba.
Menu Harian Saya Saat Cutting
Pagi (sebelum makan pertama):
- Segelas americano tanpa gula (dibuat di rumah)
- Setelah satu jam, saya langsung ke gym
Siang (jam 12.00–14.00 — makan pertama):
- Nasi putih (karbohidrat utama)
- Sumber protein: ayam rebus / telur / tahu / tempe
- Sayuran hijau (bayam, kangkung, buncis)
Sore (sekitar jam 15.00–16.00):
- 2 buah pisang
Malam (jam 19.00–20.00 — makan terakhir):
- Nasi putih
- Protein (sama seperti siang)
- Sayuran
Setelah jam 20.00, tidak ada lagi makanan hingga keesokan harinya.
Kenapa Protein Itu Wajib di Fase Cutting?
Banyak yang ketika cutting langsung mengurangi semua jenis makanan sekaligus. Ini kesalahan yang bisa membuat massa otot ikut tergerus.
Protein adalah yang paling penting dipertahankan karena:
- Membantu pemulihan otot setelah latihan
- Membuat kenyang lebih lama
- Mencegah kehilangan massa otot saat defisit kalori
Tidak harus dari daging mahal. Telur, tahu, tempe, dan ikan adalah sumber protein yang terjangkau dan sangat efektif.
Pola Makan Saat Bulking
Bulking jauh lebih menyenangkan secara psikologis — karena kamu boleh makan lebih banyak.
Tapi "lebih banyak" di sini bukan berarti makan sembarangan. Rumusnya tetap sama: makan di atas kalori harian, dengan memastikan kualitas makanan tetap terjaga.
Perbandingan Mudah
Waktu cutting saya makan 3 kali sehari. Waktu bulking, saya makan 5–6 kali sehari dengan menambah porsi dan frekuensi.
Menu Harian Saya Saat Bulking
Pagi:
- Kopi hitam
- 2–3 telur rebus atau orak-arik
Siang:
- Nasi putih (porsi lebih besar)
- Ayam / telur / tahu / tempe
- Sayuran
Sore:
- Roti gandum dengan isian telur atau ayam
- Atau: whey protein shake (kalau tersedia)
Malam:
- Nasi putih
- Protein
- Sayuran
Sebelum tidur:
- Segelas susu atau whey protein
Bulking ≠ Makan Junk Food Bebas
Saya pernah mencoba "dirty bulking" — makan apa saja asal kalori tercapai. Hasilnya? Berat badan naik, tapi lemak tubuh ikut melonjak terlalu banyak.
Clean bulking jauh lebih baik: makan lebih banyak, tapi dari sumber makanan yang berkualitas. Nasi, kentang, pisang, ayam, telur, dan susu adalah kombinasi yang sangat efektif.
Pola Latihan yang Harus Disesuaikan
Perubahan pola makan harus diikuti dengan penyesuaian program latihan.
| Fase | Latihan Beban | Cardio |
|---|---|---|
| Cutting | 3x seminggu | 1–2x seminggu (futsal/lari) |
| Bulking | 4–5x seminggu | 1x seminggu (ringan) |
Di fase bulking, saya meningkatkan frekuensi latihan karena tubuh punya lebih banyak bahan bakar untuk beradaptasi dan tumbuh.
Contoh Nyata: Berat Badan yang Sama, Tampilan yang Berbeda
Ini yang membuat saya pertama kali benar-benar memahami pentingnya komposisi tubuh dibanding sekadar angka timbangan.
Empat tahun lalu, saya memiliki berat badan 105 kg. Saat itu perut terlihat buncit, baju terasa tidak nyaman, dan kepercayaan diri di ruang publik menurun drastis.
Sekarang, dengan berat badan yang kira-kira sama — 105 kg — perutnya terlihat jauh lebih rata. Otot lebih terlihat, dan saya jauh lebih percaya diri.
Bedanya? Komposisi tubuh. Bukan hanya berapa berat badan kamu, tapi dari apa berat badan itu tersusun.
Mulai dari Mana?
Kalau kamu belum tahu pola makan mana yang paling sesuai dengan kondisi kamu sekarang — cutting atau bulking — coba dulu quiz gratis ini. Hanya 2 menit, dan kamu akan langsung mendapat gambaran program yang paling tepat untuk tujuanmu.
Dan kalau kamu mau punya panduan lengkap — termasuk program latihan dan penjelasan soal nutrisi — semua sudah saya rangkum di bundle digital Mada Coaching.
Artikel terkait yang mungkin berguna untuk kamu:
- Makanan Protein Tinggi yang Mudah Ditemukan di Indonesia
- Panduan Karbo untuk Gym: Kapan Harus Makan Karbohidrat?
Butuh Program yang Lebih Personal?
Mulai dari quiz gratis untuk tahu program yang cocok buat kondisi kamu sekarang.
Mulai Quiz Gratis →