Pengalaman Gym di Timur Tengah: Perbedaan Budaya yang Tidak Pernah Saya Bayangkan

Kembali ke Blog

Pengalaman Gym di Timur Tengah: Perbedaan Budaya yang Tidak Pernah Saya Bayangkan

Sudah lebih dari 10 tahun saya memiliki kebiasaan gym angkat beban. Dan dari semua pengalaman yang pernah saya lalui, pengalaman gym di Timur Tengah adalah yang paling banyak memberikan pelajaran — tentang olahraga, dan juga tentang manusia.

Semuanya dimulai dari gym kecil di dekat tempat tinggal saya saat kuliah di Mesir. Kemudian berlanjut ketika saya berpindah ke Yordania. Dua negara yang berbeda, tapi punya satu kesamaan yang langsung terasa: gym laki-laki dan perempuan dipisahkan.


Gym di Timur Tengah vs Jakarta: Perbedaan yang Langsung Terasa

Kalau di Jakarta, gym itu tempat yang ramai, penuh dengan berbagai kalangan, dan orang-orangnya — terutama yang muda — datang dengan penampilan yang rapi.

Kaus olahraga yang proper, parfum yang tercium dari jarak dua meter, sepatu yang koordinasi warnanya dipikirkan matang-matang.

Di gym Timur Tengah yang saya datangi, nuansanya berbeda. Lebih casual. Lebih "bodo amat." Orang datang untuk latihan, bukan untuk terlihat latihan.

Saya sempat merasa ini lebih nyaman — tidak ada tekanan sosial untuk tampil keren. Tapi ketika kembali ke Jakarta dan harus beradaptasi lagi, ada culture shock tersendiri.


Kejadian yang Saya Tidak Lupa

Suatu hari, saya sedang istirahat di antara set latihan. Berjongkok di dekat alat, menarik napas, bersiap untuk set berikutnya.

Tiba-tiba ada yang menghampiri.

"Sudah selesai?" tanyanya.

"Belum, masih ada dua set lagi," jawab saya.

"Lama banget."

Dalam hati saya bergumam, saya baru saja memulai set pertama. Tapi saya berusaha tersenyum dan menjawab dengan santai.

Tidak lama kemudian, ada orang lain yang ikut-ikutan menghampiri.

"Buruan cabut. Saya mau latihan pakai alat ini."

Dan yang pertama tadi menambahkan, "Dia sudah setengah jam latihan di sini."

Saya belum genap semenit menggunakan alat itu.

Saya berdiri. Menatap keduanya. Raut wajah mereka berubah ketika melihat bahwa ternyata tinggi badan dan ukuran tubuh saya lebih besar dari mereka.

Akhirnya mereka bilang agar saya melanjutkan latihan. Lalu pergi.


Apa yang Bisa Dipelajari dari Kejadian Ini

Ini bukan soal fisik yang lebih besar mengintimidasi yang lebih kecil. Sama sekali bukan tentang itu.

Yang lebih penting adalah: ada etika dasar di gym yang bersifat universal, di mana pun kamu berada di dunia — Jakarta, Kairo, atau Amman.

Etika gym yang sering dilupakan:

  1. Tanya dengan sopan sebelum mengambil alih alat. "Permisi, masih dipakai?" adalah kalimat yang mengubah situasi tegang menjadi tidak ada masalah sama sekali. Sederhana sekali, tapi sering dilewatkan.

  2. Jangan berasumsi orang sudah selesai hanya karena mereka sedang istirahat. Istirahat antar set adalah bagian dari latihan, bukan tanda bahwa alat sudah bebas.

  3. Berbagi alat (working in) adalah hal yang umum dan baik. Kalau seseorang sedang pakai alat yang kamu butuhkan, kamu bisa menawarkan latihan bergantian. Ini justru mempersingkat waktu tunggu untuk keduanya.

  4. Gym adalah ruang publik yang dipakai bersama. Tidak ada yang punya hak eksklusif atas alat tertentu, tapi setiap orang juga berhak menyelesaikan set mereka dengan tenang.


Satu Hal Lain yang Saya Perhatikan di Timur Tengah

Saya perlu jujur tentang satu hal lagi yang cukup sering saya alami dan saksikan selama di sana.

Ada kecenderungan sebagian orang di sana untuk memandang orang Asia — termasuk orang Indonesia — dengan cara yang kurang menyenangkan. Diperlakukan seolah lebih rendah. Bahkan kadang ada yang iseng memanggil dengan sebutan yang tidak tepat, mengira semua orang Asia adalah orang dari satu negara yang sama.

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu berdiri tegak — bukan dalam arti arogan, tapi dalam arti tidak perlu merasa lebih kecil dari siapa pun. Khususnya di gym, di mana semua orang datang dengan tujuan yang sama: menjadi lebih sehat dan lebih kuat.


Gym di Mana Pun, Prinsipnya Tetap Sama

Terlepas dari semua perbedaan budaya dan pengalaman yang saya ceritakan, ada satu hal yang konsisten di semua gym yang pernah saya kunjungi:

Mereka yang konsisten, berlatih dengan metode yang benar, dan sabar — selalu mendapat hasil.

Tidak ada gym yang "lebih bagus" kalau penggunanya tidak tahu cara berlatih yang benar. Dan tidak ada gym yang "kurang bagus" kalau penggunanya disiplin dan tahu apa yang mereka lakukan.

Saya mulai gym dari tempat yang sangat sederhana di Mesir, dengan peralatan yang tidak lengkap, tanpa personal trainer. Tapi karena konsisten dan terus belajar, hasilnya tetap terlihat.


Untuk Kamu yang Baru Mulai Gym

Kalau kamu baru mau mulai gym dan masih merasa intimidasi dengan lingkungannya, ketahuilah: semua orang pernah ada di posisi itu.

Saya pun dulu begitu. Grogi, tidak tahu harus mulai dari mana, takut dilihat orang.

Yang membantu saya adalah punya program yang jelas dari awal, sehingga saya tahu persis apa yang harus dilakukan setiap masuk gym. Tidak perlu bingung, tidak perlu bertanya-tanya.

Kalau kamu mau program yang sudah dirancang untuk pemula — termasuk panduan gerakan dan nutrisi — semua sudah tersedia di bundle digital Mada Coaching.

Dan kalau belum tahu program apa yang cocok, coba quiz gratis ini dulu untuk dapat rekomendasi yang disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tujuanmu.

Gym itu bukan tempat untuk diintimidasi — ini adalah ruang untuk berkembang. Pakailah dengan sebaik-baiknya.

Baca juga tentang panduan latihan gym untuk pemula dan etika dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan di gym.

Butuh Program yang Lebih Personal?

Mulai dari quiz gratis untuk tahu program yang cocok buat kondisi kamu sekarang.

Mulai Quiz Gratis →